Ancaman terbesar, menurut Noviardi, terletak pada jalur logistik Selat Hormuz. Jika jalur yang memasok 20 persen minyak dunia itu terganggu, Indonesia sebagai negara importir akan terkena pukulan telak.
Baca Juga: Bahlil Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik Saat Lebaran Meski Minyak Dunia Tembus US$ 100
“Gangguan di Selat Hormuz bukan hanya membuat harga minyak naik sementara, tetapi bisa memicu krisis energi global. Negara-negara importir seperti Indonesia akan menjadi pihak yang paling cepat terkena dampaknya,” ucapnya.
Kerentanan Impor dan Efek Domino Inflasi
Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih sangat tinggi. Sebagai gambaran, impor LPG nasional mencapai 6,9 juta ton dari total kebutuhan 8,7 juta ton.
Kerentanan ini dinilai akan memicu efek domino, mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah hingga lonjakan harga kebutuhan pokok di daerah.
“Daerah-daerah luar Jawa akan paling cepat merasakan dampaknya karena biaya distribusi mereka lebih tinggi. Kalau BBM naik, maka harga beras, cabai, minyak goreng, hingga tarif angkutan bisa naik hampir bersamaan,” kata Noviardi memperingatkan.
Baca Juga: Trump Klaim AS Dapat 30-50 Juta Barel Minyak Venezuela dengan Harga Pasar
Ia pun mendesak pemerintah segera menyiapkan langkah darurat, mulai dari memperkuat cadangan energi nasional hingga diversifikasi negara asal impor.
“Jangan sampai pemerintah terlambat merespons. Kalau harga minyak dunia terus naik dan konflik memanjang, maka tekanan terhadap ekonomi Indonesia akan jauh lebih berat dibandingkan saat krisis energi sebelumnya,” pungkasnya. (*)






