Terlebih, pasar wisatawan asal India kini telah merangsek masuk ke posisi lima besar pengunjung di kawasan ITDC.
“Dipilihnya Pulau Nusa Dharma sebagai lokasi penyelenggaraan Holi Festival menunjukkan adanya kepercayaan internasional sekaligus pengakuan terhadap kesiapan The Nusa Dua dalam menggelar acara berskala global,” kata Agus Dwiatmika.
Ia menambahkan bahwa festival ini mencerminkan semangat persahabatan lintas budaya yang sejalan dengan strategi ITDC untuk menjadikan kawasan ini lebih adaptif terhadap berbagai perhelatan internasional.
Baca Juga: ITDC Kebut Pemulihan KEK Mandalika: Pengerukan Sedimen hingga Trauma Healing Pasca-Banjir
Tradisi Melempar Warna dan Tarian Bollywood
Kemeriahan festival memuncak saat tradisi saling melempar bubuk warna (gulal) dimulai. Suasana kian energik dengan iringan musik dari DJ dan penampilan tari Bollywood yang dibawakan oleh kelompok seni Rhythm of Rasa, Suradiva Art Studio, dan India in Bali.
Direktur SVCC Bali, Naveen Meghwal, menyoroti peran penting festival ini sebagai jembatan kebudayaan. Baginya, Holi adalah momen pembaruan hubungan dan penguatan keharmonisan antar-komunitas yang berbeda latar belakang.
“Perayaan kemudian dilanjutkan dengan tradisi saling melempar bubuk warna yang dilakukan para peserta dengan penuh antusias,” tuturnya.
Suksesnya acara ini menjadi sinyal kuat bahwa diplomasi kebudayaan melalui festival mampu menjadi instrumen efektif dalam mendongkrak sektor pariwisata sekaligus mempererat persaudaraan dua bangsa. (*)






