Tidak hanya mendukung eksploitasi migas secara optimal dan rendah karbon, tetapi juga mulai masuk ke bisnis dekarbonisasi.
Baca Juga: Pertamina EP Mulai Bangun Fasilitas Gas di Lapangan Bambu Merah
“Pertamina Drilling tidak hanya fokus pada efisiensi teknologi pengeboran, tetapi juga mulai mengembangkan green drilling, keterlibatan di proyek geothermal, serta carbon capture, storage, and sequestration (CCS),” ujarnya.
Di Indonesia, tren kebutuhan energi nasional masih sejalan dengan dinamika global. Proyeksi menunjukkan pertumbuhan kebutuhan energi nasional hingga 2034 mencapai sekitar 5 persen per tahun, dengan bauran energi yang masih didominasi migas dan batu bara, meskipun peran EBT terus meningkat.
“Ini menegaskan bahwa perusahaan jasa migas harus adaptif, mampu menjawab kebutuhan energi hari ini sekaligus menyiapkan diri menghadapi masa depan,” ujar Avep.
Saat ini, Pertamina Drilling mengoperasikan sekitar 57 rig, terdiri dari 53 rig onshore, dua rig offshore jenis Jackup, dan dua rig offshore workover yang beroperasi di wilayah lepas pantai Jawa dan Sumatera.
Perusahaan juga menjalin strategic alliance dengan ADES, perusahaan jack-up rig terbesar dari Timur Tengah, dan telah mengoperasikan dua unit jack-up secara konsorsium, termasuk rencana operasi di Natuna.
Selain itu, Pertamina Drilling memiliki lebih dari 110 unit jasa penunjang pengeboran, seperti directional drilling, fracturing, dan cementing.






