Mencegah Silo dan Celah Pengendalian
Pendekatan Three Lines Model yang diusung menekankan pada pembagian peran yang tegas namun kolaboratif. Lini pertama bertindak sebagai pemilik risiko, lini kedua menjalankan fungsi manajemen risiko dan kepatuhan, sementara lini ketiga diisi oleh audit internal.
Penerapan skema ini bertujuan menghapus ego sektoral atau silo antar-fungsi. Dengan koordinasi yang intensif, diharapkan tidak ada lagi celah dalam pengendalian yang dapat memicu penyimpangan dalam penyaluran dana maupun pelaksanaan program TJSL di lapangan.
Sinergi untuk Nilai Tambah
Direktur TJSL BP BUMN, Edi Eko Cahyono, yang hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya sinergi antara regulator dan pelaksana di lapangan.
Baca Juga: Utang Whoosh Jadi Sorotan, Ketua DEN LBP: Tunggu Keppres Restrukturisasi!
Sebagai holding yang memiliki mandat dalam pengelolaan risiko, IFG diharapkan menjadi pionir dalam membuktikan bahwa program sosial BUMN dapat diukur dampaknya secara saintifik dan terlindungi secara hukum.
Denny menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah kunci agar implementasi TJSL memberikan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat luas.
Melalui penguatan tata kelola ini, IFG berupaya menegaskan posisinya sebagai lembaga keuangan yang kredibel, di mana setiap rupiah yang dikeluarkan untuk tanggung jawab sosial dapat dipertanggungjawabkan sesuai prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). (*)






