Kusfiardi membedah beban fiskal yang mengintai: setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi hingga Rp10,3 triliun.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi 2026 Dorong IHSG ke 10.000
Jika harga Brent bertahan di atas level psikologis US$100 dalam jangka panjang, defisit anggaran dikhawatirkan melampaui batas aman 3 persen PDB.
Risiko Stagflasi di Kuartal II
Lebih jauh, Kusfiardi memperingatkan munculnya risiko stagflasi—kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi melonjak akibat bengkaknya biaya logistik dan energi.
Ia memprediksi IHSG bisa terkoreksi tambahan 8 hingga 15 persen jika krisis di Selat Hormuz berlarut hingga pertengahan tahun.
“Langkah Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% adalah upaya defensif yang digunakan untuk menjaga stabilitas Rupiah, namun ruang untuk pelonggaran moneter kini tertutup,” tambahnya.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Melemah di Awal Pekan, Ini Menu Saham yang Perlu Diperhatikan
Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, ia menyarankan investor untuk menerapkan strategi ultra-defensif. Pilihannya adalah menghindari sektor sensitif energi seperti properti dan otomotif, serta beralih ke saham perbankan berkapitalisasi besar (Big Caps) atau sektor telekomunikasi.
Instrumen lindung nilai seperti emas juga direkomendasikan untuk mengantisipasi volatilitas nilai tukar yang masih tinggi. (*)






