“Dengan demikian, terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produk impor,” ungkap Febri.
Kontraksi di Sektor Bahan Bangunan dan Elektronik
Di sisi lain, empat subsektor masih terjebak di zona kontraksi, termasuk industri barang galian non-logam. Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Sri Bimo Pratomo, menyebut lesunya proyek infrastruktur pemerintah di awal tahun anggaran dan menjelang lebaran menjadi penyebab utama.
“Karena bulan ini masih memasuki awal tahun anggaran dan Bulan Ramadhan, sehingga banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan. Sehingga permintaan produk bahan bangunan juga ikut turun. Kemungkinan besar akan dimulai setelah lebaran,” tutur Bimo.
Sektor elektronik juga tertekan akibat kelangkaan komponen semikonduktor serta penurunan pesanan dari pasar luar negeri.
Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Catat Rekor Tertinggi dalam 11 Bulan, Unggul di ASEAN
Direktur Industri Peralatan Pertanian dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP), Solehan, mengonfirmasi bahwa ketidakpastian global masih menjadi ganjalan utama bagi ekspor komponen elektronik.
Optimisme Pelaku Usaha
Secara umum, mayoritas pelaku usaha masih memandang positif iklim bisnis saat ini. Survei menunjukkan 77,6 persen responden menyatakan kegiatan usaha mereka stabil hingga membaik. Tingkat optimisme pengusaha bahkan melonjak ke angka 73,5 persen.
Variabel produksi dalam IKI tercatat menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025. Dengan kondisi pesanan, produksi, dan persediaan yang seluruhnya berada di zona ekspansi, pemerintah berharap industri dalam negeri mampu merebut pasar domestik di tengah momentum peningkatan konsumsi Ramadhan dan Idul Fitri.






