Namun, Kemenperin memastikan dampaknya terhadap manufaktur domestik sejauh ini masih terbatas pada subsektor tertentu.
“Dampaknya saat ini masih confined pada subsektor tertentu, khususnya industri yang memiliki ketergantungan bahan baku dari kawasan Timur Tengah. Secara umum, sektor manufaktur nasional masih cukup resilien,” jelas Febri.
Sinyal Campuran dan Dominasi Subsektor Ekspansi
Berdasarkan analisis Kemenperin terhadap 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 16 subsektor tetap ekspansif dan berkontribusi sebesar 78,3 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Industri kendaraan bermotor serta industri pencetakan menjadi motor penggerak utama.
Di sisi lain, tujuh subsektor mengalami kontraksi, termasuk industri minuman, tembakau, bahan kimia, serta elektronik.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng Startup, Akses Kerja Disabilitas di Industri Manufaktur
Kontraksi ini dipicu oleh pelemahan daya beli pasca-hari raya serta kenaikan biaya logistik dan bahan baku akibat dinamika global.
“Selain faktor musiman, terdapat juga tekanan biaya logistik dan kenaikan harga bahan baku yang dipicu oleh dinamika geopolitik global,” tuturnya.
Strategi Efisiensi Energi dan Substitusi Impor
Menghadapi ketidakpastian harga energi global, Kemenperin mengimbau pelaku industri untuk melakukan efisiensi penggunaan energi secara terencana.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan operasional di tengah fluktuasi rantai pasok.






