URBANCITY.CO.ID – Sektor industri pengolahan nasional menunjukkan taji di sepanjang tahun 2025. Pertumbuhannya yang mencapai 5,30 persen tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Penopang utamanya adalah industri agro, di mana sektor pengolahan kakao (grinding) kini memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok cokelat dunia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri agro menyumbang 52,09 persen terhadap PDB industri pengolahan non-migas per Desember 2025.
Tren positif ini didorong oleh pulihnya pasokan biji kakao domestik yang sempat terdisrupsi pada tahun sebelumnya.
“Sejak tahun 2025 ketersediaan bahan baku biji kakao dalam negeri menunjukkan tren peningkatan sehingga memacu kami untuk memperkuat kapasitas grinding dalam negeri,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Baca Juga: Kemendag: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik ke USD 938,87, Harga Biji Kakao Anjlok 29 Persen
Eksportir Terbesar Keempat di Dunia
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa Indonesia berhasil memanfaatkan momentum kelangkaan pasokan dari Afrika Barat.
Saat ini, Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai produsen kakao olahan terbesar di dunia, menyuplai 8,46 persen kebutuhan global.
Produk olahan seperti cocoa butter, liquor, cake, dan powder asal Indonesia tercatat menyumbang devisa negara hingga US$ 3,42 miliar. “Prestasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia,” kata Putu.




