Hilirisasi dan Dana Perkebunan
Guna menjaga keberlanjutan bahan baku, pemerintah mengintegrasikan komoditas kakao ke dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Dana tersebut akan difokuskan untuk revitalisasi kebun, penguatan riset, serta peningkatan kapasitas SDM dari hulu hingga hilir.
Selain itu, Kemenperin mengalokasikan anggaran restrukturisasi mesin bagi pabrik pengolahan cokelat. “Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat daya saing industri kakao dalam negeri di pasar global,” imbuh Putu.
Peluang Pasar Amerika dan Eropa
Angin segar juga datang dari kebijakan internasional. Penundaan implementasi regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR) serta tarif 0 persen dari Amerika Serikat memberikan ruang ekspansi yang lebar bagi produk kakao olahan nasional.
Sebagai bentuk eksistensi di panggung dunia, Indonesia bersiap menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta.
Forum ini diharapkan menjadi jembatan kolaborasi global untuk memperkokoh posisi Indonesia sebagai “Mutiara Asia” di industri cokelat dunia.
“Kami optimistis bahwa sinergi kebijakan hulu–hilir akan semakin memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan industri kakao Asia dan pemain utama dalam rantai pasok kakao dunia,” pungkas Putu.






