Baca Juga: Kemenperin Perkuat Ekosistem Semikonduktor Lewat Desain Chip dan SDM
Hal itu dilakukan, sambung dia, guna mempelajari akar permasalahan tersebut serta mencari solusi terbaik, sehingga optimisme pelaku industri, termasuk ASAKI, tetap terjaga.
Kemenperin mendorong transformasi melalui industri hijau, industri 4.0, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), modernisasi mesin, dan inovasi desain yang mengangkat identitas Indonesia.
“Dengan memanfaatkan teknologi terkini seperti digital printing sekaligus juga konsistensi mengangkat kekayaan budaya Indonesia sebagai diferensiasi produk-produk keramik nasional, kami optimistis industri keramik kita bisa berdaya saing global,” tutur Menperin.
Peluang pasar masih lebar, dengan konsumsi keramik per kapita Indonesia 2,5 meter persegi—lebih rendah dari rata-rata ASEAN dan produsen besar.
“Kondisi ini menjadi potensi besar bagi ekspansi industri keramik nasional, seiring dengan berbagai program strategis pemerintah seperti pembangunan tiga juta rumah, sekolah rakyat, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta proyek infrastruktur pemerintah, BUMN, dan swasta,” imbuhnya.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng Startup, Akses Kerja Disabilitas di Industri Manufaktur
Menperin juga menyoroti program Gentengisasi dari Gerakan Indonesia ASRI yang diperkenalkan Presiden Prabowo. “Jadi, kita harus bersiap. Sebab, jika kita pelajari lebih lanjut, genteng sebagai material atap memiliki sejumlah keunggulan,” sebut Menperin.
Selain lebih sejuk, lanjutya, genteng juga lebih tahan lama, lebih ramah lingkungan, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan jenis atap lain yang bahan bakunya tidak berasal dari tanah.






