Diskusi ini juga membahas tentang strategi pemasaran dan upaya mengenalkan jamu atau minuman tradisional ke generasi muda. Bernadetta Yuni merupakan pengusaha kuliner asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang selama bertahun-tahun menekuni usaha katering olahan daging dan sambal kemasan.
Baca juga: Bank Jakarta dan Jakmania Kolaborasi Wujudkan Inklusi Keuangan
Namun, dalam setahun terakhir, Yuni merambah bisnis minuman tradisional melalui merek Jamu Nongendong. Produk tersebut dikemas dalam botol praktis dan dipasarkan melalui showcase yang ditempatkan di lokasi strategis seperti mal, hotel, restoran, hingga klinik, untuk menyasar pasar menengah ke atas.
Ketertarikan Yuni pada jamu berawal dari kecintaannya meracik rempah-rempah untuk konsumsi pribadi. Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi peluang usaha, terlebih setelah ia menjuarai lomba meramu jamu di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2023.
Prestasi tersebut memacu Yuni untuk mengembangkan inovasi jamu kekinian dengan tambahan soda, boba, dan varian modern lainnya, meski tetap menyebut produknya sebagai minuman tradisional.
Saat ini, Yuni tengah mengurus perizinan BPOM dan sertifikat halal seiring adanya tawaran untuk memasarkan produknya di Yogyakarta International Airport. Ia menyebut produknya dapat bertahan hingga satu bulan jika disimpan dalam lemari pendingin.
Baca juga: Aplikasi Sentuh Tanahku: Cara Mudah Cek Sertipikat dan Antre Online di Kantor Pertanahan
Sementara itu, pasangan suami istri Didik Mardi dan Putri Ayu memilih jalur berbeda dalam memasarkan minuman tradisional mereka. Sejak 2004, Didik menekuni usaha berbasis tanaman herbal dan memproduksi minuman segar. Sesuai regulasi, mereka tidak menyebut produknya sebagai jamu, melainkan minuman segar.






