Baca Juga: Pariwisata Ramah Muslim Dorong Ekonomi Syariah dan Daya Saing Global Indonesia
Jika pemerintah berani memberikan subsidi bunga pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) di bank konvensional, mengapa model insentif serupa tidak diperluas secara radikal untuk menekan margin bank syariah?
Tanpa keberanian politik untuk mengintervensi struktur pasar, perbankan syariah akan selamanya terjebak dalam kompetisi yang tidak adil dan dipaksa membebankan inefisiensi itu kepada rakyat kecil.
Menuju Transformasi Riil
Keberhasilan ekonomi syariah tidak boleh diukur dari seberapa banyak komite yang dibentuk atau seberapa megah seremoni peluncuran masterplan. Indikator sejatinya adalah seberapa rendah beban yang ditanggung oleh sektor riil.
Indonesia perlu meniru keberpihakan sistemik di Jerman. Perbankan syariah harus berani memutus rantai ketergantungan pada dana mahal dan pemerintah harus hadir menjamin likuiditas yang terjangkau.
Baca Juga: BSN Resmi Beroperasi, Siap Jadi Katalisator Industri Perbankan Syariah Nasional
Tanpa keberanian untuk memangkas margin hingga ke level yang manusiawi, label “syariah” hanya akan menjadi komoditas pemasaran, sementara ruh keadilannya tertinggal jauh di daratan Eropa.
Sudah saatnya kita berhenti merasa paling syariah hanya karena populasi, dan mulai berkaca pada sistem yang benar-benar mampu memanusiakan pengusaha kecil melalui angka-angka yang adil. (*)
*Penulis: Mukhtar Wijaya, Pemerhati Ekonomi Syariah sekaligus Pemimpin Redaksi Urbancity.co.id





