URBANCITY.CO.ID – Isra Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Perjalanan ini dimulai dari Masjid Al Haram di Makkah menuju Masjid Al Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke langit untuk menerima perintah salat lima waktu dari Allah SWT. Selama perjalanan, Rasulullah bertemu dengan para nabi terdahulu saat melewati tujuh lapisan langit.
Secara logika, peristiwa ini tampak mustahil, namun beberapa ahli sains telah mencoba menjelaskannya dari sudut pandang fisika. Saat melakukan Isra, Rasulullah menunggangi Buraq, hewan yang diriwayatkan berukuran lebih kecil dari kuda namun lebih besar dari bagal, dan mampu melangkah sejauh pandangannya. Jika diukur melalui Google Maps, rute tersingkat dari kedua masjid suci itu memerlukan waktu sekitar 16 jam 37 menit via darat dengan mobil, dengan jarak 1.471 km.
Setelah tiba di Al Aqsa, Nabi Muhammad melanjutkan Mi’raj, yaitu naik ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Di sana, beliau bertemu dengan para nabi seperti Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.
Salah satu penjelasan datang dari teori relativitas umum Albert Einstein. Guru Besar Teori Fisika Institut Teknologi Surabaya (ITS), Agus Purwanto, menyatakan bahwa peristiwa Isra Mi’raj dapat dijelaskan melalui teori ini. Teori tersebut menjelaskan bahwa objek dalam kondisi inersia dapat saling mempercepat terhadap acuan lain, dengan gravitasi yang melengkungkan ruang dan waktu.
Baca Juga : Boikot Piala Dunia 2026: Ribuan Tiket Dibatalkan Akibat Kebijakan AS
Agus menjelaskan, berdasarkan pendapat Edwin Hubble, alam semesta tidak hanya melengkung tetapi juga terus mengembang. Di masa lalu, alam semesta sangat kecil, padat, dan panas.
“Jika alam semesta diibaratkan balon, maka permukaan bola itulah ungkapan ruang lengkung dua dimensi. Artinya masih ada dimensi lain, yaitu alam immaterial yang keberadaannya di luar ruang dan waktu alam semesta,” kata Agus, seperti dikutip situs Muhammadiyah.
Agus menyimpulkan bahwa perjalanan Isra Mi’raj berlangsung singkat karena terjadi di luar alam semesta, yaitu di ‘ruang ekstra’ atau alam immaterial.
“Jadi perjalanan Rasulullah itu menembus dimensi yang lebih tinggi, yaitu langit yang gaib. Ini sudah berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan,” terang Agus.
Banyak ilmuwan juga menggunakan teori relativitas khusus Einstein untuk menjelaskan Isra Mi’raj. Teori ini menyatakan bahwa cahaya bergerak dengan kecepatan 300.000 km per detik, sehingga dalam satu detik dapat mengelilingi Bumi sekitar 6 sampai 7 kali. Agus memaparkan bahwa dengan teori ini, Rasulullah belum keluar dari sistem Tata Surya.
“Kita asumsikan kejadian mulai ba’da (selepas) salat Isya atau jam 20.00 sampai jam 4.00 pagi menjelang Subuh. Jadi membutuhkan waktu 8 jam. Karena perjalanannya bolak-balik, maka antara pulang pergi memerlukan waktu yang sama 4 jam,” katanya.
Dengan Buraq yang diyakini bergerak secepat cahaya, Rasulullah dalam satu jam dapat menempuh jarak hingga 4.320.000.000 km, yang lebih pendek dari jarak Bumi ke Neptunus, planet terluar.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antaraksa (ORPA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa Isra Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang-waktu.
“Saya memandang (Isra Mi’raj) perjalanan keluar dari dimensi ruang-waktu,” ujarnya dalam webinar di kanal YouTube Alhidayah Badan Geologi.
Ia percaya Nabi Muhammad keluar dari masa kini, masa lalu, dan masa depan yang membatasi makhluk. Pertemuan dengan para nabi lain dianggap sebagai perjalanan menembus masa lalu. Thomas berujar bahwa manusia biasanya terbatas oleh dimensi ruang-waktu, namun saat mengendarai Buraq, Rasulullah keluar dari dimensi tersebut.
“Jadi tidak perlu lagi bertanya, dan tidak relevan lagi bertanya di mana itu [pertemuan di langit yang ketujuh]. Sudah keluar dari dimensi ruang waktu,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa langit ketujuh, tempat Sidratul Muntaha, adalah ‘lambang batas yang tidak seorang manusia atau makhluk lain bisa mengetahui lebih jauh’.
Teori lain datang dari fisika kuantum, yaitu teori anihilasi. Teori ini menjelaskan reaksi energi besar dari tumbukan materi dan antimateri. Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang, Hismatul Istiqomah, dan Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember, menjelaskan dalam penelitian yang dipublikasikan di Academic Journal of Islamic Studies (AJIS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Volume 5 No 1 tahun 2020.
Menurut mereka, tubuh Nabi Muhammad sebagai massa materi dihapus oleh massa antimateri dari Malaikat Jibril, membentuk energi baru yang disebut Buraq, yang dapat disamakan dengan sinar gamma. Secara fisika, Isra adalah proses anihilasi di mana Nabi Muhammad kehilangan materi fisiknya dan menjadi energi cahaya.
Tim peneliti juga mengaitkannya dengan kesetaraan massa Einstein, di mana materi dapat diubah menjadi energi dan sebaliknya. Setiap objek terdiri dari atom dengan proton, neutron, dan elektron, serta antimateri. Pandangan ini menunjukkan bahwa Buraq bukanlah entitas terpisah, melainkan bagian dari diri Nabi Muhammad.
Reaksi anihilasi dapat dibalik melalui materialisasi, di mana energi dipecah kembali menjadi materi dan antimateri. Berdasarkan konsep ini, setelah Isra Mi’raj, Nabi Muhammad termaterialisasi kembali ke bentuk fisik, sehingga dapat kembali berinteraksi dengan umatnya seperti biasa.




