Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa keunggulan utama panas bumi terletak pada stabilitasnya yang tidak bergantung pada faktor cuaca, sinar matahari, maupun fluktuasi harga bahan bakar fosil.
Baca Juga: PGE Gelar Geovation, Mendorong Inovasi Ekosistem Panas Bumi Berkelanjutan di Indonesia
Data internal menunjukkan tingkat ketersediaan (availability factor) pembangkit PGE menyentuh angka 98,93 persen dengan tingkat gangguan (outage) hanya 0,41 persen.
“PGE siap mendukung upaya transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon, terutama pada periode dengan kebutuhan listrik tinggi seperti mudik Idulfitri,” kata Andi.
Ia menambahkan bahwa operasional PGE dijalankan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang ketat.
Langkah siaga ini juga selaras dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk mengerek kapasitas energi baru terbarukan (EBT) hingga 76 persen pada periode 2025–2034.
Dengan performa yang stabil, energi dari perut bumi ini diharapkan menjadi “sekring” pengaman agar masyarakat dapat menikmati momen lebaran tanpa gangguan pemadaman. (*)





