URBANCITY.CO.ID – Pasar tenaga kerja Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan pascapandemi dengan melandainya angka pengangguran. Namun, di balik statistik yang membaik itu, terselip persoalan akut: ketidaksesuaian antara ijazah dan kebutuhan industri atau link and match.
Mandiri Institute dalam kajian terbarunya menekankan bahwa momentum perbaikan ekonomi harus dibarengi dengan penguatan kompetensi agar produktivitas nasional tidak jalan di tempat. Tanpa keselarasan, potensi sumber daya manusia hanya akan menguap dalam struktur pekerjaan yang tidak optimal.
Tren Pengangguran yang Melandai
Berdasarkan data yang dihimpun tim ekonom Bank Mandiri, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional menyusut ke angka 4,85 persen per Agustus 2025. Angka ini turun 6 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tak hanya itu, proporsi pekerja informal pun mulai terkikis menjadi 57,8 persen.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai tren ini sebagai indikasi pasar kerja yang kian resilien. Menurutnya, penurunan TPT dan berkurangnya proporsi pekerja informal menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja kita bergerak ke arah yang lebih sehat dan resilien.
Baca Juga: Otot Finansial dan Mandat Negara, Bank Mandiri Perkuat Sokongan bagi Agenda Nasional
“Namun, untuk memastikan perbaikan ini berkelanjutan, kualitas penciptaan kerja harus semakin ditopang oleh kesesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan sektor usaha,” ujar pria yang akrab disapa Asmo ini di Jakarta, Senin, 16 Februari 2026.




