Ironi Satu dari Dua Pekerja
Meskipun pengangguran turun, kualitas penyerapan tenaga kerja masih dihantui fenomena vertical mismatch. Analisis data Sakernas BPS menunjukkan potret buram: satu dari dua pekerja di Indonesia bekerja di luar kompetensi pendidikannya.
Pada 2025, tingkat vertical mismatch mencapai 50 persen. Mayoritas berasal dari kelompok undereducated atau tenaga kerja yang kualifikasinya di bawah standar jabatan, yakni sebesar 32 persen. Hal ini berkelindan dengan komposisi angkatan kerja nasional yang masih didominasi lulusan setara SD ke bawah (33 persen).
Sektor pertanian dan pengadaan air menjadi area dengan tingkat ketidaksesuaian tertinggi. Sebaliknya, sektor jasa keuangan dan administrasi pemerintahan justru dibanjiri pekerja overeducated, yakni mereka yang berpendidikan tinggi namun mengisi posisi yang menuntut kualifikasi lebih rendah karena tergiur stabilitas sektor formal.
Baca Juga: Mandiri Sahabatku 2026, Misi Setrum Bank Mandiri di Negeri Beton
Mendorong Ekosistem Kolaboratif
Mandiri Institute mendesak pemerintah dan industri untuk memperluas program upskilling dan reskilling. Strategi ini dipandang krusial untuk memastikan lulusan institusi pendidikan dapat terserap secara presisi oleh sektor usaha.
Bank Mandiri sendiri menyatakan komitmennya melalui partisipasi dalam Program Magang Nasional dan kolaborasi dengan dunia pendidikan. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan talenta yang siap pakai sesuai kebutuhan pasar.
Asmo menegaskan, sinergi antara kebijakan berbasis data dan penguatan ekosistem penempatan kerja adalah kunci.






