Puntodewi menjelaskan bahwa penguatan desain adalah kunci untuk memperbesar pangsa pasar furnitur Indonesia.
“Data ekspor furnitur Indonesia pada 2025 mencapai USD 1,82 miliar, namun pangsa pasar kita di dunia baru sekitar 0,9 persen. Ada ruang sangat luas untuk tumbuh jika kita kuat di sisi desain dan inovasi,” tambahnya.
Baca Juga: Kemendag Ekspor Rumput Laut Maros ke Tiongkok: Optimalkan Resi Gudang dan Desa BISA Ekspor
Jalur Cepat Menuju Pengakuan Internasional
Ajang GDI bukan sekadar kompetisi lokal. Sejak 2017, GDI telah berafiliasi dengan Good Design Award Jepang (G-Mark).
Hingga kini, 60 produk peraih GDI sukses memboyong penghargaan di Jepang. Tahun ini, Kemendag juga memperluas jaringan dengan menggandeng Golden Pin Design Award dari Taiwan.
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria, menyebut GDI sebagai instrumen vital di tengah tuntutan pasar global yang kian selektif.
“Pasar global saat ini semakin menuntut produk yang inovatif dan berkelanjutan. Karena itu, penguatan desain menjadi salah satu kunci,” kata Ari.
Bagi pelaku usaha yang tidak sempat hadir di IFEX, pendaftaran daring tetap dibuka hingga 5 Juni 2026 melalui laman resmi IDDC. Kemendag berharap ajang ini melahirkan “mutiara” desain baru yang mampu memperkokoh posisi Indonesia dalam ekosistem kreatif internasional. (*)






