Data Kemenperin hingga Agustus 2025 menunjukkan, tenaga kerja manufaktur mencapai 20,26 juta orang, atau 13,83 persen dari total nasional.
Baca Juga: Perkuat Kerja Sama, Kemenperin – ADB Bangun Ekosistem Semikonduktor Nasional
Dengan inklusivitas, sektor ini diharap libat lebih banyak penyandang disabilitas. Namun, tantangan seperti akses informasi terbatas, kesenjangan kompetensi, minim jejaring, dan lingkungan kerja belum sepenuhnya inklusif masih menghambat.
“Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur,” ujar Reni.
Melalui ini, siswa disabilitas SMA/sederajat belajar kompetensi industri agar siap kerja. Kegiatan ini juga bangun jejaring antara pendidikan disabilitas, siswa, dan dunia usaha. Sebanyak 45 siswa kelas XII dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah bertemu 24 perusahaan agro, elektronik, tekstil, dan aneka.
“Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker,” tambah Reni.
Baca Juga: Kemenperin Perkuat Branding IKM Kosmetik dan Obat Tradisional Indonesia
Reni tegaskan, manufaktur butuh sikap tekun, teliti, konsisten, dan loyal—keunggulan penyandang disabilitas. Inklusivitas bukan sekadar regulasi, tapi investasi SDM untuk produktivitas jangka panjang.
Top Loker, juara Startup for Industry Kemenperin 2022, hadirkan platform jembatan kerja disabilitas di manufaktur.





