Baca Juga: Tembus Pasar Dunia, IKM Kerajinan asal Bantul Raup Ekspor Rp1,83 Miliar
Kegiatan ini menggandeng mitra strategis seperti Shopee, IKEA Indonesia, hingga Universitas Ciputra Surabaya.
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, mengungkapkan bahwa digitalisasi kini memasuki babak baru dengan pemanfaatan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“AI memungkinkan pelaku usaha melakukan personalisasi promosi sesuai preferensi konsumen, memprediksi tren pasar, serta menganalisis perilaku pelanggan dengan lebih akurat, sehingga efektivitas pemasaran dapat meningkat secara signifikan,” jelas Reni.
Transformasi Menuju Industri 4.0
Program e-Smart IKM sendiri telah membina 31.634 pelaku usaha sejak diluncurkan pada 2017. Reni menambahkan, Kemenperin tidak hanya mendorong digitalisasi pada sisi pemasaran, tetapi juga mengarahkan IKM untuk mulai mengadopsi prinsip Industri 4.0 pada lini produksi mereka agar lebih efisien.
Baca Juga: Tembus Pasar Dunia, IKM Kerajinan asal Bantul Raup Ekspor Rp1,83 Miliar
Di Bali, fokus pengembangan diarahkan pada sektor kriya dan fesyen. Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, berharap para pelaku IKM dapat memanfaatkan fasilitas Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) untuk meningkatkan standar produk mereka.
Melalui penguatan kapasitas di bidang teknik fotografi produk dan optimalisasi marketplace, Kemenperin optimistis struktur industri nasional akan semakin kuat.
Transformasi ini diharapkan mampu mendorong kontribusi sektor manufaktur yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan. (*)






