Namun, tantangan besar tetap mengintai: ketergantungan tinggi pada impor semikonduktor yang mengancam ketahanan industri.
Baca Juga: Dorong Industri IKM, Kemenperin Resmikan Sentra Fesyen di Bintan
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai impor melonjak hampir dua kali lipat, dari USD 2,33 miliar pada 2020 menjadi USD 4,87 miliar pada Januari–November 2025, seiring kebutuhan komponen strategis yang terus membengkak.
“Tingginya ketergantungan impor semikonduktor menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. Kondisi ini perlu direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri, khususnya pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual, sebagai fondasi awal kemandirian teknologi,” ungkapnya.
Strategi ini tertuang dalam roadmap pengembangan semikonduktor nasional, yang bertujuan menempatkan Indonesia sebagai pemain aktif di rantai pasok global.
Roadmap itu mencakup empat pilar: material, desain, fabrikasi (front end), serta assembly, testing, dan packaging (back end), didukung pengembangan SDM, riset inovasi, infrastruktur, dan kebijakan industri yang mendukung.
Baca Juga: Perkuat Kerja Sama, Kemenperin – ADB Bangun Ekosistem Semikonduktor Nasional
“Roadmap pengembangan semikonduktor nasional menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengejar investasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah nasional, memperkuat kemandirian teknologi, serta memastikan Indonesia terintegrasi secara berkelanjutan dalam ekosistem semikonduktor dunia,” papar Menperin.
Langkah konkretnya adalah pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC), prakarsa Kemenperin bersama PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) dan pakar desain chip dari 13 universitas.





