“Masyarakat indonesia membayar nol persen untuk barang yang diproduksi dari soya bean ataupun wheat dalam hal ini, noodle ataupun dalam bentuk tahu dan tempe. Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” jelas Airlangga.
Baca Juga: Menko Airlangga Pede Ekonomi Bisa Tumbuh 8 Persen
Murni Kerja Sama Ekonomi
Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah pemisahan isu perdagangan dari agenda non-ekonomi. Airlangga menggarisbawahi bahwa AS setuju untuk mencabut pasal-pasal sensitif yang kerap menjadi sandungan dalam diplomasi kedua negara.
“Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang non kerja sama ekonomi, antara lain terkait pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut Cina Selatan, serta pertahanan dan keamanan perbatasan, sehingga murni ART kita adalah terkait dengan perdagangan,” tandasnya.
Perjanjian ini juga menyepakati tidak adanya bea masuk atas transaksi elektronik sesuai standar WTO, namun dengan tetap memperhatikan kedaulatan transfer data lintas batas dan perlindungan konsumen sesuai regulasi nasional.
Dokumen ART ini ditargetkan mulai berlaku 90 hari setelah penyelesaian proses hukum dan konsultasi dengan DPR RI. Airlangga optimistis kerja sama ini akan menjadi motor penggerak menuju visi Indonesia Emas.
“Sehingga perjanjian ini juga disebut sebagai new golden age bagi Indonesia maupun Amerika Serikat itu sendiri,” tutupnya. (*)






