Peningkatan daya saing kawasan industri dinilai menjadi faktor penting yang membuka ruang investasi yang lebih luas di berbagai sektor.
“Kawasan industri adalah engine pertumbuhan ekonomi nasional yang berkontribusi signifikan terhadap PDB, lapangan kerja, dan ekspor nonmigas. Dengan kondisi PMI manufaktur yang ekspansif di tahun 2026, ini bukan saatnya untuk wait and see, melainkan momen tepat menjadi first mover dalam berinvestasi,” tegas Sandiaga.
Lebih jauh, Sandiaga menyoroti bahwa arah pengembangan kawasan industri ke depan sangat bergantung pada integrasi konsep Special Economic Zone (SEZ) dan Green Economy.
Baca Juga: PLN Icon Plus Dukung Infrastruktur ICT di Kawasan Industri Terpadu Batang
Ketersediaan energi terbarukan, konektivitas logistik yang efisien, serta penerapan prinsip keberlanjutan menjadi prasyarat utama untuk menarik minat investor global.
“Keberlanjutan harus menjadi nilai tambah bisnis—doing good and profitable. Melalui inovasi, adaptasi, dan kolaborasi, kawasan industri dapat bertransformasi menjadi ekosistem unggulan yang tidak hanya menarik investasi berkualitas, tetapi juga memperkuat basis ekspor nasional,” ujar Sandiaga Uno.
Ekosistem Industri Terpadu
Dr. Akbar Djohan mengungkapkan, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia yang disampaikan dalam World Economic Forum 2026 di Davos mengenai pentingnya stabilitas dan ekosistem industri yang kuat, Krakatau Steel menegaskan komitmennya untuk tidak hanya memperkuat bisnis inti baja.
Perusahaan juga fokus membangun ekosistem industri terpadu yang berkelanjutan serta memiliki daya saing di tingkat global.






