Baca Juga: Perkuat Kerja Sama, Kemenperin – ADB Bangun Ekosistem Semikonduktor Nasional
Kondisi ini memperketat likuiditas keuangan di kawasan Asia dan Pasifik, memberikan tekanan berat pada nilai tukar mata uang, serta mengancam arus modal.
Negara-negara yang bergantung pada sektor pariwisata dan kiriman uang (remitansi) tercatat sebagai kelompok yang paling rentan menghadapi guncangan ini.
Dua Pilar Intervensi ADB
Untuk membendung krisis, ADB menyiapkan dua komponen intervensi utama:
Dukungan Anggaran Kontrasiklus: Fasilitas ini ditujukan bagi pemerintah yang menghadapi tekanan fiskal hebat guna menstabilkan makroekonomi dan melindungi kelompok masyarakat miskin yang paling terdampak.
Program Pembiayaan Perdagangan dan Rantai Pasokan (TSCFP): ADB memutuskan untuk mengaktifkan kembali dukungan impor minyak dalam periode terbatas.
Baca Juga: ADB Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Negara Berkembang di Asia dan Pasifik Naik Menjadi 5,0%
Langkah ini diambil setelah harga minyak dunia melonjak cepat dan mengganggu rantai pasok masyarakat di kawasan.
ADB melaporkan telah memulai pembicaraan intensif dengan negara-negara anggota yang terdampak paling parah.
Melalui kemitraan strategis dan perangkat keuangan inovatif, bank pembangunan yang bermarkas di Manila ini berkomitmen menjaga stabilitas kawasan yang dihuni oleh mayoritas penduduk dunia tersebut.
“Hal ini sejalan dengan rekam jejak kami yang kokoh dalam mendukung kawasan Asia dan Pasifik selama masa-masa ketidakpastian global,” pungkas Masato Kanda. (*)






