Baca Juga: Perwira Pertamina Pimpin Operasi Migas Multinasional di Aljazair
Kondisi serupa dirasakan Rully Bagja Anugrah di Offshore Southeast Sumatera (OSES). Di sana, anjungan disulap menjadi “rumah kedua”. Ritual shalat Id dilakukan berjamaah di atas geladak, dilanjutkan dengan sesi maaf-maafan dan sarapan bersama rekan sejawat.
“Bekerja saat Lebaran tentu terasa berbeda dibanding hari biasa, terutama dari segi suasana dan emosional,” kata Rully, yang sehari-hari bertugas menjaga kestabilan pemisahan fluida dan migas agar operasional tetap berada pada level aman.
Menjaga Denyut Nadi Negeri
Dedikasi Nanda, Fanji, dan Rully adalah potret nyata anomali kehidupan pekerja energi. Saat mobilitas masyarakat mencapai puncaknya di hari raya, kebutuhan energi nasional justru sedang dipertaruhkan.
Gangguan sekecil apa pun di fasilitas lepas pantai bisa berdampak luas pada pasokan BBM dan gas di daratan.
Baca Juga: Tinjau Pengeboran di Blora, Dirut PHE Tegaskan Prinsip ‘No Permit, No Work’
Bagi mereka, pengorbanan waktu bersama keluarga adalah harga yang harus dibayar untuk memastikan dapur jutaan rakyat Indonesia tetap mengepul dan kendaraan pemudik tetap melaju.
Di tengah sunyinya laut dan deru mesin kilang, Idulfitri bagi mereka adalah bentuk pengabdian tertinggi untuk negeri. (*)






