URBANCITY.CO.ID – Langit Majalengka menumpahkan amarahnya pada Rabu malam, 11 Februari 2026. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur merata sejak petang menyeret material tanah dari perbukitan Cikebo, menutup urat nadi transportasi yang menghubungkan Majalengka dengan Cikijing.
Jalur provinsi itu sempat mati total, meninggalkan antrean kendaraan yang mengular dalam ketidakpastian. Kondisi jalur Cikebo sempat mencekam. Selama dua jam, para pengendara terjebak di tengah kepungan material longsor yang menutup seluruh badan jalan.
“Awalnya jalanan tertutup. Dua jalur sama sekali tidak bisa dilalui,” tulis laporan warga yang diunggah akun Instagram @besokseninco. Petugas gabungan yang bergerak cepat akhirnya berhasil membuka akses, meski hingga Kamis pagi, 12 Februari 2026, kendaraan harus melintas dengan sistem buka-tutup jalur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka mencatat ini bukan kejadian tunggal. Dalam satu malam saja, tercatat 14 titik bencana yang tersebar di 14 desa pada enam kecamatan, yakni Maja, Argapura, Talaga, Lemahsugih, Kadipaten, dan Panyingkiran. Kawasan selatan yang berbukit kembali menjadi titik paling rapuh.
Baca Juga: Mandiri Bantu Korban Longsor Bandung Barat Lewat Sinergi Relawan dan BPBD
Kepala Pelaksana BPBD Majalengka, Agus Tamim, menyebutkan bahwa kontur tanah di wilayah selatan memang rentan terhadap pergerakan tanah saat dipicu hujan lebat.
“Hujan merata di seluruh wilayah Majalengka, dan daerah selatan yang memang rentan longsor menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak,” ujar Agus dalam pernyataan resminya, Kamis, 12 Februari 2026.




