URBANCITY.CO.ID – Kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Hambalang, Bogor, menjadi saksi konsolidasi penting otoritas ekonomi Indonesia, Minggu, 15 Februari.
Presiden Prabowo Subianto memanggil tiga menteri kuncinya untuk merumuskan posisi tawar Jakarta sebelum berhadapan dengan kebijakan ekonomi global yang kian proteksionis di bawah kendali Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Bos Danantara Rosan Roeslani, tampak hadir di kediaman pribadi sang Presiden.
Pertemuan tertutup ini menjadi sinyal bahwa Indonesia sedang menyiapkan “perisai” sekaligus strategi ofensif dalam merespons manuver ekonomi dari Gedung Putih.
Baca Juga: Presiden Prabowo Lantik Anggota Dewan Energi Nasional di Istana Negara
Kepentingan Nasional Harga Mati
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Prabowo memberikan instruksi tegas. Posisi Indonesia dalam setiap meja perundingan, terutama dengan Amerika Serikat, tidak boleh goyah dari prinsip keuntungan domestik yang maksimal.
“Presiden menegaskan beberapa hal, memastikan posisi yang diambil Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi dengan siapa pun, khususnya dalam waktu dekat dengan Amerika Serikat, adalah yang terbaik dan paling menguntungkan untuk Indonesia,” ujar Teddy melalui keterangannya.
Mengincar Rantai Pasok Global
Ambisi Prabowo tak sekadar soal angka perdagangan. Mantan Menteri Pertahanan ini ingin menjadikan perundingan dengan Washington sebagai batu loncatan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global (global supply chain).




