Secara teknis, Nasaruddin mengungkapkan bahwa posisi bulan saat ini masih sangat rendah, sehingga kemungkinan hilal terlihat (imkanur rukyat) sangat kecil. Bketentuan ini bersifat lebih empiris karena didasarkan pada data pengamatan astronomis yang lebih akurat.
Baca Juga: Menanti Hilal di Langit Nusantara: Sidang Isbat dan Kepastian Awal Ramadhan 1447 H
Sebelumnya digunakan kriteria 2 derajat, namun berdasarkan riset, hilal pada ketinggian tersebut hampir mustahil terlihat, sehingga dinaikkan menjadi 3 derajat untuk kepastian yang lebih tinggi. Sementara elongasi 6,4 derajat merujuk pada batas fisis (Danjon Limit) yang memungkinkan hilal dapat diamati.
“Kalau kita lihat perhitungan teknologi saat ini, wujud hilal masih dalam posisi minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat,” jelas Menag.
Selain faktor teknis, kendala cuaca dan awan mendung juga menjadi variabel yang dipertimbangkan secara cermat dalam sidang nanti.
Imbauan Menjaga Kerukunan
Menghadapi potensi perbedaan tanggal mulai berpuasa, Menag meminta masyarakat tetap tenang. Ia meyakini kedewasaan beragama masyarakat Indonesia sudah teruji dalam menghadapi perbedaan di tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Observatorium Bosscha ITB Pantau Hilal Penentuan Lebaran 2025, Dengan Cara Ini
“Indonesia tetap rukun dan telah berpengalaman dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan pada tahun sebelumnya. Kita berpengalaman menyatu di tengah perbedaan,” katanya.
Ia juga berharap masyarakat menghindari perdebatan tidak produktif di ruang publik. “Saya berharap tidak ada perdebatan di masyarakat. Marilah kita hidup rukun di tengah perbedaan,” pungkasnya.






