Sementara di SMK NU Banat, karya busana para siswinya bahkan sudah melanglang buana hingga Prancis dan Italia.
“Perwadag akan mencarikan pembelinya, kemudian mempertemukan secara daring melalui business matching,” imbuh Mendag. Langkah ini diharapkan memperkecil celah antara tingginya permintaan industri kreatif global dengan suplai tenaga kerja ahli.
Baca Juga: Mendag Busan Buka Pasar Murah Ramadan, Harga Minyakita Turun Pascaterbitnya Permendag Baru
Program ‘Gaspol’ dan Penguatan Pasar Domestik
Selain mendorong ekspor, Mendag Budi Santoso juga membawa misi penguatan pasar dalam negeri melalui Gerakan Kamis Pakai Lokal (Gaspol).
Ia mengajak para siswa untuk bangga menggunakan produk buatan sendiri sebelum bertarung di kancah internasional.
“Ketika adik-adik membuat desain dan produk yang bagus, yang akan memakainya adalah kami juga. Setelah di dalam negeri kita kuat, pasti di luar negeri kita juga akan menjadi pesaing yang kuat,” tegasnya.
Dukungan serupa datang dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang menyebut keberadaan sekolah vokasi dan Balai Latihan Kerja (BLK) sangat vital.
Hingga 2025, serapan tenaga kerja di Jawa Tengah mencapai hampir 470 ribu orang dengan dominasi sektor padat karya.
Pihak Djarum Foundation melalui Primadi H. Serad pun berharap pemerintah terus membukakan jalan bagi talenta vokasi.
Baca Juga: Mendag Budi Santoso Pimpin G-33: Reformasi Pertanian WTO Harus Pro-Negara Berkembang dan Petani
Mengingat industri animasi memiliki permintaan tinggi namun suplainya masih minim, kolaborasi antara sekolah, industri, dan pemerintah melalui perwakilan dagang di luar negeri dianggap sebagai solusi jitu untuk mencetak “eksportir jasa” masa depan dari pelosok daerah. (*)






