URBANCTY.CO.ID – Indeks inklusi asuransi di Indonesia masih menjadi anomali yang mengkhawatirkan. Di saat mobilitas generasi muda kian tinggi, pemahaman mereka terhadap mitigasi risiko keuangan justru masih tertinggal.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, literasi asuransi berada di angka 45,45 persen, namun inklusinya baru menyentuh 28,50 persen.
Ada jurang lebar yang menandakan banyak orang tahu soal asuransi, tapi enggan—atau belum mampu—membelinya. Kesenjangan inilah yang coba disasar Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di Universitas Jember (UNEJ), Kamis, 12 Februari 2026, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, turun gunung memberikan kuliah umum bertajuk “Insights for the Future”. Misinya satu: menyuntikkan kesadaran proteksi dini kepada kaum mendang-mending.
Baca Juga: Di Pertemuan Tahunan 2026, OJK Siapkan Tiga Kebijakan Perkuat Ekonomi
“Risiko merupakan bagian dari kehidupan. Yang membedakan adalah kesiapan dalam mengelolanya. Asuransi hadir sebagai instrumen perlindungan agar masyarakat tidak menghadapi risiko sendirian ketika hal yang tidak diharapkan terjadi,” ujar Ogi di hadapan 300-an mahasiswa dan akademisi.
Bagi Ogi, asuransi bukan sekadar produk komersial, melainkan bantalan stabilitas ekonomi nasional. Tanpa proteksi, satu guncangan kesehatan atau kecelakaan bisa menyeret kelas menengah kembali ke jurang kemiskinan.
“Karena siklus hidup manusia membutuhkan perlindungan terhadap risiko jiwa, kesehatan, dan keuangan, kami mendorong generasi muda untuk mengelola keuangannya secara efektif,” tambahnya.




