Pada Selasa, 20 Januari 2026, program ini meluluskan 10 mahasiswa Politeknik ATK Yogyakarta, yang fokus pada industri kulit, karet, dan plastik.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng Startup, Akses Kerja Disabilitas di Industri Manufaktur
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi melihat program ini sebagai wujud kolaborasi global antara pendidikan dan industri.
“Kami meyakini bahwa pengalaman belajar langsung di lingkungan industri melalui praktik kerja industri internasional seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk smart talent yang siap menghadapi era industri modern,” ujarnya.
Program empat bulan itu memanfaatkan teknologi tinggi seperti Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI), plus pembelajaran Bahasa Mandarin untuk memperkuat kompetensi global.
Para mahasiswa ini adalah lulusan internasional pertama yang dibina Sailun Group dan QTC. Beberapa bahkan lulus simulasi ujian HSK Level 3 dan 4.
Presiden QTC Xing Guanlu menyebut program ini langkah strategis untuk integrasi internasional. Pihaknya, berharap para peserta dapat membawa kembali ke Indonesia seluruh pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang diperoleh di Tiongkok.
Baca Juga: Dorong Industri IKM, Kemenperin Resmikan Sentra Fesyen di Bintan
“Dengan begitu, mereka menjadi profesional yang mahir berbahasa Mandarin, unggul secara teknis, dan memiliki wawasan budaya yang luas,” ujarnya.
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menegaskan komitmen untuk melanjutkan program ini.





