Dari sisi teknis, pembangunan hunian vertikal dipilih untuk menyiasati keterbatasan lahan. Di atas lahan seluas 30 hektare, proyek ini diproyeksikan mampu menyediakan hingga 141.000 unit hunian.
Menurut Ara, jika proyek ini dipaksakan menggunakan konsep rumah tapak, setidaknya dibutuhkan lahan seluas 1.200 hektare untuk jumlah unit yang sama.
Baca Juga: Menteri PKP Ara Naikkan Anggaran BSPS Rp10 Triliun, Sasar Kawasan Kumuh Sulut dan Papua Selatan
Ekspansi ke Depok dan Dukungan Danantara
Rencana pembangunan hunian terjangkau ini dipastikan akan terus berlanjut ke wilayah lain. Menteri Ara mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengincar lahan milik Kementerian Komunikasi dan Digital di Kota Depok seluas 45 hektare. Lahan tersebut berpotensi menampung sekitar 170.000 unit hunian baru.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, memberikan jaminan penuh dari sisi pendanaan.
Ia melihat proyek ini strategis karena memiliki efek pengganda ekonomi yang besar, termasuk bagi BUMN konstruksi dan kontraktor swasta.
“Dari sisi pembiayaan, Danantara akan mendukung penuh proyek ini karena kami melihat ini sebagai proyek yang sangat baik dan memiliki dampak besar. Selain itu, BUMN karya juga dapat berkolaborasi bersama kontraktor swasta dalam pembangunan,” tutur Rosan.
Langkah ini diharapkan menjadi pilot project bagi pengembangan kawasan hunian subsidi terpadu di masa depan, guna memangkas backlog perumahan nasional yang masih menjadi tantangan besar pemerintah saat ini. (*)





