Penggunaan teknologi Extended Reality (XR) menjadi kunci utama dalam menghadirkan visual Mars yang meyakinkan tanpa harus meninggalkan studio.
Baca Juga: Mudik Berhias Robot, Kereta Argo Dwipangga Bawa Promo Film Pelangi di Mars
“Kami melihat ada satu pilar yang belum banyak disentuh, yaitu infrastruktur teknologi dalam produksi film. Karena itu, kami melakukan berbagai eksperimen untuk mengikuti arah perkembangan global yang kini mengarah pada pemanfaatan XR guna menghadirkan pengalaman visual yang lebih imersif,” tutur Upie.
Ia menambahkan, hal itu menjadi batu loncatan untuk membangun imajinasi anak-anak Indonesia agar ke depan mampu menciptakan karya dan menaklukkan dunia.
Edukasi dan Karakter Anak
Selain kecanggihan visual, film ini juga mendapat sorotan dari sisi konten edukasi. Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, menilai Pelangi di Mars membawa pesan moral yang krusial bagi generasi muda di tengah gempuran konten hiburan yang dangkal.
“Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menanamkan nilai persahabatan, kejujuran, dan ketangguhan. Ini penting agar anak-anak tidak mudah menyerah dan berani menghadapi tantangan di masa depan,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut.
Baca Juga: Film Fiksi Ilmiah Pelangi di Mars Siap Tayang di Bioskop saat Lebaran 2026
Special screening ini diharapkan menjadi pemantik bagi produser dan sutradara lain untuk mulai memanfaatkan teknologi terkini.
Dengan sinergi antara teknologi XR dan narasi yang kuat, perfilman Indonesia diproyeksikan mampu menjadi pilar utama dalam memperkokoh posisi ekonomi kreatif Indonesia di kancah internasional. (*)






