Aspek ketepatan waktu (punctuality), sanitasi, hingga penguasaan bahasa asing menjadi poin penilaian krusial.
“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan pihak sekolah melibatkan industri dalam proses evaluasi ini. Untuk menghadapi realita dunia industri yang kompetitif, penguasaan teknik memasak saja tidak cukup,” ujar Gede Adi Yulyawan.
Keberanian Mengolah ‘Beef Bourguignon’
Baca Juga: Promo Hotel ITDC Ramadan & Nyepi 2026: Iftar Premium di Nusa Dua hingga Ngabuburide di Mandalika
Dalam sesi ujian yang menegangkan tersebut, Adi mencatat satu momen impresif saat seorang siswi berani menyajikan Beef Bourguignon. Hidangan klasik asal Prancis ini dikenal rumit karena idealnya membutuhkan waktu pengolahan semalaman untuk mencapai tekstur sempurna.
“Ada hal unik terjadi; salah satu peserta berani mengambil risiko memasak Beef Bourguignon. Hidangan klasik Perancis ini notabene membutuhkan proses memasak overnight (semalam) untuk mencapai tekstur sempurna, namun siswi tersebut mampu menyajikannya dengan baik walau tentu tidak sempurna karena keterbatasan waktu. Keberanian dan teknik yang ditunjukkan sangat patut diapresiasi,” tambah Adi.
Melalui kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri ini, lulusan SMK Negeri 1 Labuan Bajo diharapkan memiliki kepercayaan diri dan sertifikasi kompetensi yang diakui secara global. Hal ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pariwisata di destinasi super prioritas Indonesia tersebut. (*)






