Baca Juga: PalmCo Kantongi USD 10,5 Juta dari CPO Berkelanjutan
Mereka diajari manajemen kebun presisi hingga tata kelola organisasi. “Sering kali kendalanya bukan hanya teknis di kebun, tetapi juga administrasi dan manajemen. Kami dampingi dari hulu sampai hilir,” tambah Jatmiko.
Langkah ini disambut baik oleh Setiyono, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia. Menurutnya, di tengah fluktuasi harga, petani butuh sandaran teknis.
“Yang dibutuhkan petani adalah kepastian dan pendampingan. Transparansi perusahaan serta dukungan teknis yang berkelanjutan membuat petani tidak merasa berjalan sendiri,” tuturnya.
Di Kalimantan Barat, Pangsius, Ketua KUD Sawit Trija, mengakui perubahan pola pikir anggotanya. Dulu, petani asal tanam asal cepat berbuah. Kini, mereka mulai melek kualitas.
“Sekarang kami lebih paham soal kualitas benih dan teknik budidaya. Tanpa bibit yang jelas dan bimbingan teknis, sulit bagi petani swadaya untuk mandiri secara ekonomi,” kata Pangsius.
Baca Juga: PTPN IV PalmCo Gelar Apel K3 Nasional Riau 2026, Tekankan Kolaborasi Zero Accident
Ujung dari transformasi ini adalah pengakuan global. PalmCo mendorong mitra mereka meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Di Riau, tiga koperasi—Makarti Jaya, Dayo Mukti, dan Kusuma Bakti—telah sukses menyabet sertifikat RSPO pada 2025. Sertifikasi ini bukan sekadar stempel ramah lingkungan, melainkan tiket masuk agar sawit rakyat bisa melenggang di pasar internasional yang kian ketat soal isu keberlanjutan. (*)





