Busan meminta para eksportir tak sekadar bermain di kolam lama. Ia mendorong pemanfaatan sabuk perjanjian dagang seperti CEPA dengan Uni Emirat Arab, Australia, hingga Chile untuk memperluas jangkauan.
“Membuka pasar-pasar baru ini melalui perjanjian dagang adalah kesempatan besar bagi eksportir kita. Kalau ekspor meningkat, ekosistem ekonomi kita jalan,” katanya.
Ia juga memberi sinyal peluang besar di 27 negara Uni Eropa seiring rampungnya substansi perjanjian Indonesia-EU CEPA.
PT EMI sendiri bukan pemain yang berangkat tanpa bekal. Melalui fasilitasi Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di Dubai dan Jeddah, perusahaan yang baru berdiri pada 2023 ini telah dipertemukan dengan empat calon pembeli dari wilayah Teluk.
Co-Founder Evo Group, Dimas Baskoro, optimistis produk 100 persen buatan Banyuasin ini mampu berbicara banyak di level global.
“Pelepasan ekspor ke Filipina ini menjadi kontribusi kami terhadap Indonesia. Kami sedang menjajaki ekspor ke Timur Tengah dan negara-negara Asia lainnya seperti Vietnam,” kata Dimas.
Jika langkah ini konsisten, Indonesia tak lagi sekadar menjadi pasar bagi jenama asing, melainkan pemain yang menentukan standar gizi di piring hewan peliharaan dunia. (*)






