URBANCITY.CO.ID – Di tengah riuh rendah transisi kebijakan ekonomi, kabar tenang datang dari New York. Moody’s Investors Service baru saja mengafirmasi peringkat kredit Indonesia pada level Baa2.
Meski membawa catatan soal perubahan outlook, lembaga pemeringkat global itu tetap mengakui daya tahan ekonomi Nusantara yang disokong oleh kekayaan sumber daya alam, bonus demografi, serta disiplin fiskal yang dianggap masih “waras”.
Stabilitas ini bukan sekadar klaim di atas kertas. Fundamental ekonomi Indonesia hingga kini memang tampak kokoh: pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menyentuh 5,39 persen pada kuartal IV-2025—rekor tertinggi pascapandemi—dengan defisit fiskal yang konsisten terjaga di bawah ambang tiga persen.
“Terkait perubahan outlook, kami yakin perkembangan kebijakan dan kerangka kelembagaan yang sedang diimplementasikan akan menjawab kekhawatiran yang disampaikan,” ujar Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, Sabtu lalu.
Baca Juga: OJK, BI, dan Kemenko Perekonomian Gelar FEKDI – IFSE 2025
Siasat Danantara dan Disiplin Anggaran
Pemerintah sadar, pasar butuh kepastian soal struktur lembaga baru: Danantara. Lewat UU Nomor 1 Tahun 2025 dan UU Nomor 16 Tahun 2025, pemerintah mencoba memisahkan “wasit” dan “pemain” dengan membagi fungsi regulator BUMN dan operasional investasi.
Danantara diposisikan sebagai motor pembiayaan alternatif agar APBN tak megap-megap memikul beban pembangunan sendirian.
Skenarionya jelas: program prioritas tetap disuntik lewat APBN dengan menjaga defisit 2026 di angka 2,68 persen, sementara proyek lainnya diserahkan ke tangan Danantara.



