“Perjalanan mudik dengan kereta api kini menghadirkan pengalaman kreatif yang akrab dengan dunia imajinasi anak-anak. Suasana ini diharapkan menambah kenyamanan,” tambahnya.
Krisis Tontonan Anak dan Kekuatan IP Lokal
Produser film Pelangi di Mars, Dendi Reynando, mengungkapkan kegelisahannya terkait minimnya produksi film anak di tanah air.
Baginya, film ini bukan sekadar tontonan, melainkan upaya membangun fondasi karakter melalui cerita lokal yang kuat.
Baca Juga: Film “Pelangi di Mars” Hadirkan Standar Baru Sinema Anak dengan Visual Mars yang Spektakuler
“Film anak di Indonesia masih terbatas. Kami berharap Pelangi di Mars dapat menjadi bagian dari upaya membangun IP lokal yang terus berkembang,” kata Dendi. Film ini sendiri dijadwalkan menyapa penonton di bioskop mulai 18 Maret 2026.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyambut positif transformasi kereta api menjadi etalase karya seni.
“Kami ingin perjalanan menjadi lebih berwarna, lebih berkesan, dan semakin dekat dengan karya kreatif Indonesia,” ujar Bobby.
Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari rangkaian aktivasi IP lokal yang telah dimulai Kemen Ekraf sejak 2025. Sebelumnya, karakter komik lokal dan animasi Jumbo telah lebih dulu menghiasi bodi kereta jarak jauh pada masa libur sekolah dan Natal tahun lalu.
Sinergi ini membuktikan bahwa transportasi massal kini menjadi instrumen vital dalam memajukan ekonomi kreatif nasional. (*)






