Baca Juga: Arus Balik Bali-Jawa Mulai Padat, ASDP Prediksi Puncak Penyeberangan 26 Maret
Strategi Geser Armada di Baubau dan Ternate
Di Sulawesi Tenggara, optimalisasi serupa dilakukan pada lintasan Tampo–Torobulu. Sebanyak 8.075 kendaraan telah terlayani berkat bantuan KMP Nuku hingga KMP Pulau Rubiah.
Bahkan, ASDP melakukan langkah kontingensi dengan mengalihkan operasional KMP Bahteramas II dari jalur perintis Kamaru–Wanci ke jalur komersial Labuan–Amolengo untuk membendung lonjakan arus balik.
General Manager ASDP Cabang Baubau, Sullivan Ramadhana Miraza, menjelaskan bahwa pergeseran armada ini merupakan strategi antisipatif. “Kami memproyeksikan lonjakan signifikan pada arus balik. Oleh karena itu, KMP Bahteramas II tetap dioperasikan di lintasan Labuan–Amolengo hingga H+5,” jelasnya.
Sementara itu di Ternate, frekuensi pelayaran Bastiong–Sofifi pun digenjot hingga 60 persen lebih tinggi dibanding periode normal.
Baca Juga: Arus Mudik Lebaran 2026: ASDP Catat Penumpang Kapal Feri Tembus 2,5 Juta Orang
Peningkatan frekuensi trip ini bertujuan agar waktu tunggu penumpang tidak mengular, sekaligus menjaga ritme distribusi barang yang kian intensif.
Melalui strategi operasional 24 jam dan fleksibilitas armada, ASDP berupaya menghadirkan wajah transportasi laut yang lebih manusiawi di timur Indonesia.
Setiap pelayaran kini bukan sekadar perpindahan raga, melainkan upaya menjaga integrasi wilayah di tengah tantangan geografis yang luas. (*)






