URBANCITY.CO.ID – Di bibir pantai Cilegon, Banten, Terminal LPG Tanjung Sekong bukan lagi sekadar gugusan tangki raksasa yang kaku. Fasilitas yang menyokong hampir 40 persen kebutuhan elpiji nasional ini sedang bersalin rupa.
PT Pertamina (Persero) resmi menjadikannya proyek percontohan Green Terminal, sebuah ambisi besar untuk menyelaraskan ketahanan energi dengan standar lingkungan global.
Tanjung Sekong kini memikul beban sebagai laboratorium hidup penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG). Tak main-main, terminal berkapasitas 98.000 metrik ton ini dirombak melalui delapan pilar keberlanjutan—mulai dari digitalisasi operasional hingga pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebut langkah ini sebagai fondasi menuju target Net Zero Emission 2060.
Baca Juga: Pertamina NRE dan Medco: Satu Meja Dua Raksasa di Jalur Bioenergi
“Dengan mengintegrasikan teknologi hijau dan tata kelola yang lebih baik, Pertamina memperkuat fondasi ketahanan energi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko jangka panjang,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah suntikan energi dari hidrogen hijau. Melalui kolaborasi lintas entitas, hidrogen yang diproduksi dari panas bumi Ulubelu dipasok untuk memenuhi seperempat kebutuhan listrik operasional terminal.
Cara ini diklaim mampu memangkas emisi secara signifikan sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional.
Bagi Agung, transformasi ini adalah sinyal bagi investor bahwa Pertamina mulai serius mengelola risiko non-finansial. Keberlanjutan bukan lagi sekadar pemanis laporan tahunan.




