“Inisiatif ini mencerminkan transisi ASEAN dari berprinsip netralitas menuju ke arah kerja sama strategis yang proaktif. Ini sejalan dengan visi Indonesia yang lebih luas yaitu beradaptasi dan memitigasi,” jelasnya.
Ambisi ASEAN tak berhenti di situ. Di bawah payung Digital Economy Framework Agreement (DEFA), kawasan ini mengincar potensi ekonomi digital sebesar USD 2 triliun pada 2030. Selain itu, sektor hijau turut dipoles lewat inisiatif ASEAN Power Grid yang diprediksi mampu menyerap hingga 12 juta lapangan kerja baru.
Baca Juga: Transformasi UMKM dengan AI: BNI Dorong Inovasi Digital hingga Pasar Global
Sinyal serupa datang dari Kepala SEAFIC, Tengku Zafrul Aziz. Mantan Menteri Perdagangan Malaysia ini menilai berpegang pada netralitas saja tidak lagi cukup untuk melindungi kepentingan jangka panjang kawasan.
“Saat ini ASEAN perlu melindungi kepentingan jangka panjangnya dan memanfaatkan peluang yang ada. Jadi, kita harus beralih dari adaptasi pasif ke aktif dan berorientasi pada masyarakat,” ujar Zafrul.
Di level domestik, Indonesia sendiri terus tancap gas memperluas kemitraan dagang dengan Kanada hingga Uni Ekonomi Eurasia. Tak ketinggalan, program “UMKM BISA Ekspor” turut digelorakan untuk memastikan pengusaha cilik di tanah air tidak hanya menjadi penonton dalam dekade emas ASEAN ini. (*)






