Munggahan juga menjadi ajang silaturahim. Keluarga yang berjauhan kembali berkumpul, mempererat relasi yang mungkin renggang oleh kesibukan.
Dalam teori modal sosial yang dipopulerkan oleh Pierre Bourdieu (1986), jaringan relasi sosial merupakan sumber daya penting yang menopang kohesi masyarakat. Silaturahim bukan sekadar etika sosial, tetapi fondasi keberlanjutan komunitas.
Baca Juga: Observatorium Bosscha ITB Pantau Hilal Penentuan Lebaran 2025, Dengan Cara Ini
Al-Qur’an mengingatkan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan (QS. An-Nisa: 1), dan Rasulullah Saw bersabda bahwa menyambung silaturahim menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, munggahan memiliki legitimasi spiritual sekaligus sosiologis.
Di sela kebersamaan itu pula, percakapan ringan tentang puasa, tarawih, sedekah, dan target ibadah Ramadan mengalir secara natural. Di sinilah proses internalisasi nilai keagamaan berlangsung.
Sebagaimana dijelaskan dalam teori konstruksi sosial oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1966), realitas sosial—termasuk realitas keberagamaan—dibentuk melalui interaksi yang terus menerus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan keberagamaan yang berbaur dengan budaya ini juga dapat dibaca melalui perspektif antropologi simbolik Clifford Geertz (1973), yang melihat agama sebagai sistem makna yang hidup dalam simbol dan praktik sosial.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan kultural yang dirawat oleh Nahdlatul Ulama sejak 1926 menunjukkan bahwa dakwah yang akomodatif terhadap budaya lokal justru memperkuat substansi ajaran, bukan melemahkannya.






