“Perkembangan-perkembangan ini mendorong sejumlah bank sentral kembali menempuh kebijakan akomodatifnya,” kata Mahendra.
Baca Juga: OJK Beri Kebijakan Khusus Kredit untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Lebih lanjut, Mahendra menyebut, Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat, memangkas Federal Fund Rate atau FFR, dan Bank of England, bank sentral di Inggris, di Desember 2025 juga kembali memangkas suku bunga acuan.
Namun, Bank Sentral Jepang, Bank of Japan, menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasar warsa terakhir karena didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di Jepang.
“Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral itu turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan global,” ucap Mahendra.
Mahendra membeberkan bahwa pasar saham global secara umum bergerak menguat merespon pemangkasan FFR meskipun terdapat kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi.
Baca Juga: OJK Resmikan Kantor Maluku Utara, Perkuat Pengawasan Sektor Keuangan
Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar sovereign bond global seiring dengan praktik berakhirnya aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut.
“Lebih lanjut, tentu kita cermati dan saksikan sendiri di awal tahun 2026 pelaku pasar memperhatikan perkembangan geopolitik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global,” jelas Mahendra.
Mahendra menambahkan, di tengah dinamika global itu, perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat.






