URBANCITY.CO.ID – Bank Mandiri tampaknya kian mapan memainkan peran gandanya: sebagai mesin pendulang laba sekaligus kepanjangan tangan kebijakan pemerintah. Dalam laporan audit terbarunya, bank berlogo pita emas ini memamerkan otot finansial yang kian kekar.
Aset mereka melonjak 16,6 persen menjadi Rp2.829,9 triliun per akhir 2025—sebuah angka yang menjadi fondasi bagi Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, untuk tancap gas menyokong agenda nasional.
Di bawah kepemimpinan Riduan, Mandiri tak sekadar mengejar angka pertumbuhan kredit yang mencapai Rp1.895,0 triliun. Ada pergeseran fokus yang kentara menuju ekonomi kerakyatan. Melalui ekosistem finansial yang terintegrasi, bank ini mengklaim telah menyentuh 1,3 juta pelaku UMKM.
“Kami terus mendorong pembiayaan yang selektif dan terukur di seluruh segmen, dengan fokus pada sektor produktif yang mendorong ekonomi kerakyatan dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Riduan melalui keterangan resmi, Minggu, 15 Februari 2026.
Baca Juga: Mandiri Sahabatku 2026, Misi Setrum Bank Mandiri di Negeri Beton
Menurtnya, pendekatan ini memungkinkan Bank Mandiri menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan kualitas aset tetap terjaga.
Keberpihakan ini bukan tanpa risiko, namun struktur pendanaan Mandiri yang disesaki dana murah (CASA) sebesar Rp1.431,4 triliun memberikan ruang napas yang cukup lega.
Dengan likuiditas yang melimpah, Mandiri mulai masuk ke celah-celah program populis pemerintah, mulai dari menyalurkan KUR Rp41 triliun hingga membiayai mitra pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG).




