Petani mendapatkan akses langsung terhadap bibit unggul bersertifikat, transfer teknologi pertanian, hingga kepastian pasar saat masa panen tiba.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dalam PSR merupakan mandat utama sebagai perusahaan milik negara.
“Sebagai BUMN, kami tidak hanya berorientasi pada kinerja korporasi, tetapi juga berperan sebagai agen pembangunan. Pendampingan ini adalah bentuk komitmen untuk tumbuh bersama petani,” tegas Jatmiko.
Menjaga Keberlanjutan Industri Nasional
Pemerintah memandang model kemitraan yang dijalankan PalmCo sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga taji industri sawit Indonesia di pasar global.
Baca Juga: PTPN IV Kebun Air Molek 2 Siap Replanting 862 Hektare Sawit demi Capai Target 7 Ton CPO
Dengan produktivitas kebun rakyat yang meningkat, pendapatan petani otomatis ikut terkerek naik, menciptakan ekosistem industri yang lebih inklusif.
Model pendampingan ini diharapkan menjadi standar baru bagi perusahaan kelapa sawit lainnya di Indonesia. BPDP mendorong agar skema serupa diperluas guna mengejar target peremajaan 100.000 hektare lahan setiap tahunnya.
Di tengah tekanan isu lingkungan global, penguatan di tingkat akar rumput melalui praktik berkelanjutan menjadi kunci.
Masa depan sawit Indonesia kini tidak lagi hanya bergantung pada efisiensi korporasi besar, tetapi pada daya saing jutaan petani swadaya yang kini mulai tersentuh modernisasi melalui tangan PalmCo. (*)





