Durasi panjang ini rupanya berbanding lurus dengan biaya produksi yang membengkak hingga tak lagi mampu ia tutupi.
Baca Juga: Pentingnya Kolaborasi Dengan Media Massa Perkuat Literasi Keuangan Masyarakat
Bobon mengakui ada kekeliruan dalam pola pengembangan kontennya. Meski kontennya memberikan dampak sosial yang luas—terutama aksi berbaginya—secara ekonomi ia merasa terengah-engah.
“Saya rasa saya menciptakan pola yang salah, sehingga tidak mampu tumbuh dengan baik di Indonesia,” terangnya. Ia menyimpulkan bahwa beban operasional yang terlampau besar menjadi sandungan utama.
“Intinya adalah, saya menciptakan sebuah konten yang terlalu besar biayanya, walaupun memang dampaknya lebih besar dan luas bagi masyarakat,” tukas Bobon.
Kini, nasib kanal dengan belasan juta pelanggan itu berada di persimpangan jalan, menunggu pembeli yang sanggup memikul beban di balik layar yang kian berat. (*)






