“BULOG akan terus menjalankan perannya sebagai instrumen negara dalam menjaga stabilitas dan cadangan pangan, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Ahmad Rizal Ramdhani di hadapan para pemangku kepentingan.
Nuansa kolaborasi memang kental terasa sepanjang acara. Jenderal Maruli Simanjuntak, misalnya, diapresiasi atas tangan dingin TNI AD dalam urusan agroforestri dan penyediaan air bersih bagi lahan-lahan marjinal.
Sementara itu, Siti Hediati Hariyadi dipandang sebagai pelumas kebijakan dari balik kursi legislatif. Sinergi lintas matra—Bulog, Senayan, dan Markas Besar Angkatan Darat—seolah menjadi pesan kuat bahwa swasembada bukan proyek tunggal.
Acara yang juga diramaikan dengan diskusi interaktif itu menjadi pengingat: ketahanan pangan adalah fondasi kedaulatan.
Bulog, melalui momentum Panen Fest ini, kembali menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai penyimpan stok di gudang, melainkan benteng terakhir stabilitas nasional. Di tangan para “insan inspiratif” inilah, mimpi tentang pangan mandiri dipertaruhkan. (*)





