Skema pembiayaannya pun dirancang agar tidak membebani kantong negara. Program prioritas nasional tetap dikawal melalui APBN, sementara Danantara bertugas memobilisasi sumber pembiayaan alternatif.
Baca Juga: Standard & Poor’s: Peringkat Utang Indonesia Tetap Investment Grade
Hasilnya, realisasi defisit APBN 2025 sanggup ditekan hingga 2,92 persen. Untuk tahun 2026, targetnya bahkan lebih ambisius: defisit sebesar 2,68 persen.
Investasi Manusia dan Lantai Bursa
Di lapangan, anggaran negara dioptimalisasi untuk program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan 22.091 dapur komunitas yang sudah beroperasi, program ini diklaim menjadi investasi bagi penguatan modal manusia (human capital) sekaligus menyerap satu juta lapangan kerja baru. Bersamaan dengan itu, efisiensi belanja administratif juga diperketat lewat Inpres Nomor 1 Tahun 2025.
Reformasi juga merembet ke lantai bursa. Koordinasi antara pemerintah, OJK, dan Bursa Efek Indonesia kini difokuskan pada penguatan transparansi dan peningkatan minimum free float menjadi 15 persen. Haryo menekankan bahwa orkestrasi komunikasi adalah krusial untuk menjaga kepercayaan dunia internasional.
“Pihak Danantara dan perbankan Indonesia agar bisa memberikan penjelasan kepastian arah fiskal dan moneter Indonesia ke lembaga-lembaga pemeringkat yang ada,” pungkasnya. (*)





