Blora, yang tercatat sebagai produsen jagung terbesar kedua di Jawa Tengah dengan luas lahan mencapai 83.000 hektare, dinilai sudah layak memiliki industri pengolahan sendiri.
Baca Juga: Lawan Hoaks: BULOG Bantah Kabar Direktur Utama Ahmad Rizal Ramdhani Jabat KABAIS TNI
“Kami berharap ada hilirisasi, termasuk pembangunan pabrik pakan. Selama ini jagung dari Blora banyak dibawa keluar daerah. Jika hilirisasi terwujud, nilai ekonomi petani akan meningkat dan kesejahteraan semakin baik,” tutur Arief Rohman.
Sinergi Hulu-Hilir dan Dukungan Militer
Pengembangan sektor jagung di Blora juga mendapat pengawalan ketat dari unsur TNI. Panglima Kopassus Letjen TNI Djon Afriandi yang turut hadir menyatakan bahwa Blora akan menjadi pilot project nasional untuk ekosistem pertanian yang terintegrasi.
“Kami akan memastikan dari hilir hingga hulu berjalan dengan baik. Mulai dari permodalan, benih, pupuk, pendampingan hingga off-taker, semuanya didukung oleh BULOG dan Kementerian Pertanian,” tegas Djon Afriandi.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Yudi Sastro, menambahkan bahwa pemerintah memang tengah memacu produksi jagung untuk mengejar kebutuhan pakan nasional sebesar 15 juta ton per tahun serta pengembangan 1 juta hektare lahan jagung khusus untuk bioetanol.
Baca Juga: BULOG dan Polri Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak di 510 Titik Menjelang Lebaran
Penataan Industri Gula Blora
Selain jagung, Ahmad Rizal Ramdhani juga menyoroti carut-marut pengelolaan tebu di Blora. Ia memastikan BULOG akan melakukan langkah strategis untuk menyelamatkan hasil panen tebu petani melalui koordinasi dengan PTPN dan SGN (Sugar Co).






