Di lapangan, GAPULIMGI bergerak sebagai pusat edukasi. Mereka merancang skema pengumpulan yang fleksibel: ibu rumah tangga diarahkan menyetor botol-botol jelantah ke bank sampah atau pengepul resmi, sementara pelaku kuliner dikoneksikan dengan aggregator untuk pengambilan berkala yang disertai insentif.
Transisi yang Inklusif
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah bagian dari transisi energi yang inklusif.
“Melalui kolaborasi dengan GAPULIMGI, kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan UMKM dalam rantai pasok energi hijau, sehingga transisi energi dapat berjalan seiring dengan penciptaan nilai sosial bagi masyarakat,” kata Baron.
Kerja sama ini, yang digawangi oleh Subholding Downstream Pertamina, mencakup pula peningkatan kapasitas pelaku usaha hingga advokasi kebijakan bersama pemerintah. Tujuannya satu: mewujudkan visi swasembada energi Asta Cita sembari memastikan pengelolaan limbah menjadi kebiasaan baru yang menguntungkan ekonomi warga.
“Partisipasi publik menjadi kunci agar pengelolaan minyak jelantah dapat berkembang sebagai kebiasaan baru yang positif di Indonesia,” pungkas Baron. (*)






