Kajian tersebut mencakup aspek teknis, komersial, hingga kesiapan regulasi yang diperlukan agar ekosistem bioetanol dapat berjalan secara masif.
Baca Juga: Lampu Tenaga Surya Pertamina NRE Bantu Nelayan Cilamaya Melaut Lebih Aman dan Cuan
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menyatakan optimisme bahwa kolaborasi berbasis pengetahuan ini akan mempercepat transisi energi yang adaptif di Indonesia.
“Pertamina NRE memandang kolaborasi ini sebagai platform untuk memperkuat kapabilitas teknis dan institusional melalui knowledge exchange yang terstruktur. Dengan mengedepankan studi bersama, pelatihan, serta pertukaran keahlian, kami optimistis dapat mempercepat pengembangan ekosistem bioetanol yang adaptif dan berkelanjutan di Indonesia,” ungkap John Anis.
Aksi Nyata Menuju Bahan Bakar Hijau
Selain aspek teknis, kemitraan ini juga memfasilitasi dialog mengenai pengembangan pasar dan strategi komunikasi publik.
Hal ini penting untuk memastikan masyarakat siap menerima transisi menuju bahan bakar berbasis campuran etanol yang lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Pertamina NRE dan Medco: Satu Meja Dua Raksasa di Jalur Bioenergi
Chairman USGBC, Mark Wilson, menekankan bahwa kerja sama ini lebih dari sekadar seremoni formal, melainkan sebuah platform implementasi nyata.
“MoU ini bukan sekadar kesepakatan formal, tetapi merupakan platform implementasi. Melalui kemitraan ini, kami akan berfokus pada pertukaran pengetahuan dalam produksi dan rantai pasok etanol, penguatan aspek teknis dan pengembangan pasar, serta mendukung kesiapan Indonesia dalam pengembangan bahan bakar berbasis etanol,” ujar Mark Wilson.






